Di Tengah Persaingan Produsen Minyak Dunia

Di Tengah Persaingan Produsen Minyak Dunia

Di Tengah Persaingan Produsen Minyak Dunia

  • fluktuasi harga minyak dunia, harga minyak turun, produsen minyak bumi, shale oil

Tahukah kita bahwa dunia dalam beberapa bulan ini sedang mengalami penurunan harga minyak mentah dunia, yang tadinya berkisar di atas $110/barel sekarang turun menjadi di bawah $50/barel. Penurunan harga minyak mentah yang lebih dari 60-an% dari harga awal tersebut mempengaruhi harga BMM di pasaran lokal (Indonesia) dan juga di sejumlah negara-negara lain di dunia (terutama negara yang menyerahkan harga BBM ke skema pasar, seperti di US, Europe, dsb.).
Di dunia saat ini ada dua pembagian besar produsen minyak mentah, yaitu OPEC dan non OPEC. OPEC sendiri berdiri secara resmi pada tahun 1960, berkantor pusat di Vienna – Austria, dimana pada era tersebut pasar minyak dunia didominasi oleh perusahaan multinasional yang terkenal dengan sebutan “the seven sisters”. Semenjak saat itulah negara mulai berperan penting dalam pengendalian sumber daya alam, dalam hal ini minyak bumi, dimana sebelumnya para perusahaan multinasional tersebut yang memegang peranan penting dalam pengendalian produksi dan harga minyak dunia.
Negara-negara non OPEC sebagai penghasil sekitar 60% minyak dunia terdiri dari sejumlah negara-negara besar seperti Rusia, US, Canada, China, dan sejumlah negara-negara lainnya. Rusi merupakan negara penghasil minyak mentah terbesar di dunia dengan laju produksi sekitar 10 juta barel per hari. Sementara Saudi Arabia (OPEC) merupakan negara kedua penghasil minyak mentah dengan laju produksi sekitar 9 juta barel per hari. Kemudia disusul oleh US sekitar 7 juta barel, China sekitar 4 juta barel dan Canada sekitar 3 juta barel. Total produksi minyak mentah dunia adalah sekitar 94 juta barel per hari
Saat ini, US dan Canada sebagai pelopor pengeksplorasian sumber daya minyak mentah dari shale formation, atau lazim disebut dengan shale oil, sedang giat-giatnya untuk mengekstraksi sumber minyak dari reservoir tersebut. Shale oil memang dikenal sebagai unconventional oil reserve karena kebutuhan teknologi, teknik pengeboran dan ekstraksi yang lebih rumit, kompleks dan mahal dibanding conventional oil reserve. Tetapi seiring berjalannya waktu, dekade saat ini merupakan saat yang dinilai tepat, jika dilihat dari faktor keekonomisan dan ketersediaan teknologi, untuk mulai memproduksi shale oil ini.
Dampak dari booming-nya shale oil ini adalah dunia menjadi over supply terhadap pasokan minyak nentah di pasaran global, sementara demand menurun dikarenakan penurunan ekonomi sejumlah negara-negara besar. Oleh karena itu yang terjadi justru kelebihan pasokan minyak mentah sehingga harga minyak menjadi turun.
oil supply demand outlook
 

(International Energy Agency)

Di lain pihak, para produsen minyak konvensional, yang tergabung dalam OPEC, menetapkan kebijakan untuk tidak akan mengurangi basis produksi minyak mereka bahkan jika harga minyak terus turun. Hal ini salah satunya disebabkan kekhawatiran akan hilangnya market share mereka ketika kondisi sudah mulai normal yang diakibatkan oleh pasokan shale oil tersebut.
Merujuk kepada grafik perbandingan supply vs. demand terhadap minyak mentah diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa supply minyak mentah saat ini memang sangat berlebih dengan surplus sekitar 1 – 2 juta barel per hari (dengan forecasting sampai 4Q15).
Persaingan antara negara-negara penghasil minyak mentah sedikit banyak telah memberikan dampak yang positif di satu sisi (terutama untuk para pengguna BBM) tetapi juga negatif di sisi yang lain (pendapatan negara berkurang, beban defisit anggaran semakin besar, kerugian lifting minyak yang semakin besar karena tingkat keekonomisan harga jual minyak berada di bawah normal).
Pertanyaan selanjutnya adalah sampai berapa lamakah kondisi ini akan bertahan. Saat ini kondisi perekonomian negara seperti Rusia, yang menggantungkan sekitar 45% pendapatan negara pada industri minyak dan gas, sedang mengalami permasalahan pada currency value-nya, dengan devisa negara yang sudah termakan sebagian untuk dpat menahan laju penurunan Rubel terhadap Dolar US. Sementara itu inflasi semakin tinggi dengan kekhawatiran bahwa mata uang mereka menjadi semakin berkurang nilainya dikarenakan merosotnya nilai tukar tersebut.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
 
 

0 Comments

Leave Reply

Your email address will not be published.